Tampilkan postingan dengan label Socio-Cultural. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Socio-Cultural. Tampilkan semua postingan

Candi Jago

Posted On // Leave a Comment
"Bathara Wisnu mulih ing curalaya pjah dinarma ta sire waleri swasimbha len sugtawimbha mungwin jajaghu (Nagarakretagama 41: 4)"

Berbicara tentang sejarah, kadang menumbuhkan kekaguman tersendiri pada negeri ini. Terutama peninggalan zaman kerajaan-kerajaan dahulu. Membayangkannya, begitu hebat tata budaya masa itu.

Dan hal itu pula yang membawa saya dengan beberapa teman berkunjung ke Candi Jago yang terletak di Desa Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Bermula dari obrolan warung kopi, dan diskusi pun berlanjut hingga menengok ke tempat keberadaan candi yang konon aslinya bernama Jajaghu. (~Seringkali kami begitu, berdiskusi tentang sejarah, saling bertukar informasi dan berlanjut mengunjunginya).

Candi ini didirikan pada masa Kerajaan Singosari sekitar abad ke-13. Terbuat dari batu andesit, dan bagian atas dari Candi Jago ini konon hancur karena disambar petir. Disebut-sebut bahwa ornamen Candi Jago sama persis dengan Candi Penataran yang terdapat di Blitar.

Pada papan dekat pintu masuk dituliskan, panjang candi tersebut 23,71 m dengan lebar 14 m dan tinggi 9.97 m. Dengan keberadaannya yang tepat di tengah-tengah pemukiman warga, ~bahkan terlalu dekat jalan, menurut saya~ mengurangi nilai kesakralan candi tersebut. Tapi terlepas dari itu semua, tetap menunjukan tingginya peradaban dan budaya masa itu.

Menurut Negarakretagama, Candi Jago merupakan tempat pendharmaan raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni yang dikatakan meninggal tahun 1190 C atau sekitar 1268 M. Sesungguhnya raja Wisnuwardhana dicandikan di 2 tempat yakni di Waleri (tidak ditemukan sampai sekarang) sebagai Siwa dan di Jago sebagai Budha.

Keindahan relief yang begitu kompleks dan detail tampak di Candi Jago. Relief-relief tersebut dipahatkan hampir merata keseluruh sisa bangunan candi yang masih dapat kita lihat sekarang ini. Pahatan dengan begitu banyak cerita-cerita moral baik dari unsur Jawa asli, Budhisme, dan Hinduisme. Suatu bentuk perpaduan dinamis yang jarang ditemui di candi- candi lain.

Konon pembangunan Candi Jago juga dimaksudkan sebagai penolak bala tuah keris Mpu Gandring yang dikatakan akan memakan tujuketurunan Ken Arok. Wisnuwardahana juga mengangkat Narasingamurti yang masih saudara namun beda bapak sebagai pendamping utama dalam menjalankan pemerintahan sehingga periode pemerintahannya disebut dengan 2 naga kepala tunggal. Tujuannya adalah untuk mengakhiri jurang perpecahan antara para keturunan Ken Arok dan Kendedes.

Sayang, ketika saya datang kesana, tak lama berselang turun hujan. Sehingga tak sempat melihat relief-relief dengan seksama. Sedang Juru Kunci atau penjaga juga tidak berada di tempat. Padahal saya juga ingin bertanya tentang salah satu arca yang katanya berada di Belanda. Benarkah?
[Read more]

Ki Hajar Dewantoro - Taman Siswa - Cinta Kesenian

Posted On // Leave a Comment

KI HAJAR DEWANTARA

Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat (2 Mei 1889 - 26 April 1959) berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Dan sempat melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit.

Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java , De Expres, Oetoesan Hindia , Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif sebagai seksi propaganda untuk menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu it mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker.

Pada tahun 1913, perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Pemerintah Hindia Belanda yang
berniat mengumpulkan sumbangan dari
warga, termasuk pribumi, menggugah Soewardi untuk menulis kolom "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli :"Als ik een Nederlander was") dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut :

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan- kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelumnya. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap Douwes Dekker berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini Soewardi diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai".

Dalam pengasingan inilah, Soewardi kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte. Suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya.


TAMAN SISWA

Soewardi kembali ke Indonesia pada
bulan September 1919.

Saat beliau genap berusia 40 tahun ~menurut hitungan penanggalan Jawa, Soewardi mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beliau melepas gelar kebangsawanan, agar beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Selepas kembali ke Indonesia, ±3 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 3 Juli 1922, beliau mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Pendiriannya diawali atas ketidakpuasan terhadap pola pendidikan pemerintah kolonial, yang tidak memberikan fasilitas pendidikan memadai kepada Bangsa Indonesia.

Semboyan dalam sistem pendidikan Taman Siswa sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh ~dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Pendidikan Taman Siswa dilaksanakan
berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya. Sistem Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tut Wuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut Student Centered. Di dalam sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata akan ke luar “rel” atau pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.

Untuk mencapai tujuan pendidikannya,
Taman Siswa menyelanggarakan kerja
sama yang selaras antar tiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Pusat pendidikan yang satu dengan yang lain hendaknya saling berkoordinasi dan saling mengisi kekurangan yang ada. Penerapan sistem pendidikan seperti ini yang dinamakan Sistem Trisentra Pendidikan atau Sistem Tripusat Pendidikan. Pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan sunatullah), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat maing-masing individu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).


KECINTAAN TERHADAP KESENIAN

Pengembangan, pembinaan dan penanaman kecintaan kesenian milik bangsa tidak dapat dipisahkan dengan Taman Siswa dan Ki Hajar Dewantara. Lewat keuletan dan penuh perhatian beliau -Ki Hajar Dewantara- lah, dimasukkan kesenian sebagai salah satu media pendidikan yang utuh. Tentu saja yang utama kesenian-kesenian yang berakar dari Indonesia, entah Jawa, Bali, Sunda, Sumatera, dan lainnya.

Bukan tanpa halangan, cemooh dan ejekan selalu dilontarkan oleh bangsa asing yang berkuasa waktu itu. Bahkan bangsa Indonesia yang kenyang didikan penjajah pun ikut meledek. Tetapi Taman Siswa terus melaksanakan budaya dan kesenian sebagai landasan untuk mengembangkan kreativitas siswa, dari anak-anak hingga remaja.

Lalu, sampai dimana pengaruh pendidikan kesenian sejak dirintis oleh Taman Siswa hingga saat sekarang?


RUJUKAN :
* WIKIPEDIA - Ki Hajar Dewantara
* IVAN SUJADMIKO - Sejarah Taman Siswa
* BAGONG KUSSUDIARDJA - Dari Klasik Hingga Kontemporer

[Read more]

Menghibur Selera Pasar

Posted On // Leave a Comment

Orientasi materealistis semakin tampak jelas menjangkiti masyarakat. Orang indonesia kini, jauh meninggalkan tata masyarakat agraris-tradisional menuju masyarakat industri modern. Tingkat konsumsi tinggi dan pengukuran harkat manusia berdasar kekayaan materi mendorong generasi muda untuk tak kenal lelah mencari keuntungan.

Kita sadari atau tidak, keadaan ini mempengaruhi kehidupan kesenian kita.

Maka jangan salahkan para seniman yang "melacur", menciptakan karya berdasar selera pasar. Karena generasi muda sudah sulit mengapresiasi tontonan tradisi seperti wayang, ludruk, dll. Suka atau tidak maka pengkaryaanpun harus berdamai dengan pasar.

Coba sekarang kita tengok telivisi sebentar saja. Lanjutkan dengan mengganti chanel satu persatu, dari acara satu ke yang lain. Apa yang anda temukan? Joged....

Maaf, bukan maksud merendahkan atau meremehkan tim kreatif (juga penontonnya). Tapi dengan keseragaman acara di hampir semua stasiun televisi dengan kemasan yang "simple", pokok e joged kalau kata lirik lagu, dan celakanya yang paling laku. Ini mengindikasikan bahwa penonton (masyarakat) hari ini hanya butuh hiburan "enteng" semata. Hampir tidak ada lagi tontonan yang mengajak kita berfikir apalagi bercermin.

Tetapi sekali lagi, analisa ini tidak bisa di-generalisasi. Seperti sebuah anekdot ".... televisi adalah furnitur".

Lalu bagaimana di daerah saudara? Masih adakah penikmat kesenian?

[Read more]

Kesenian Sebagai Media Komunikasi

Posted On // Leave a Comment

Apapun disiplin seni yang kita geluti, semua pasti setuju, bahwa “Kesenian” juga merupakan alat komunikasi massa. Seperti kita tahu, dimana ada pertunjukan atau pagelaran seni, maka akan begitu banyak menyedot perhatian masyarakat. Baik itu masyarakat seni sendiri, maupun masyarakat luas pada umumnya. Disitulah kemudian menjadi sebuah media komunikasi masyarakat yang bisa mempertemukan antara personal dengan personal yang lain, antara satu orang dengan orang lain, bahkan kelompok masyarakat tertentu dengan masyarakat yang lain. Hal ini tentu saja dapat terciptanya interaksi sosial yang sehat, sehingga bisa menghindarkan konflik sosial yang tidak diinginkan.


Interaksi antar masyarakat ini bukanlah sekedar interaksi biasa, bukanlah pertemuan yang tanpa makna. Melainkan pertemuan atau interaksi dalam konteks masyarakat memiliki caranya sendiri yang lebih baik; mereka bisa saling bertutur sapa, membentuk forum-forum diskusi, mengisi kantung-kantung seni dan saling berupaya untuk menjadikan kehidupan mereka lebih baik dan bermutu.

Ketika komunikasi sosial bisa terjalin dengan sebaik-baiknya, maka kita semua bisa meyakinkan, bagaimana sebuah kehidupan bisa menjadi lebih harmonis, kehidupan bisa menjadi lebih baik terus menerus. Segala kemungkinan bisa terjadi dalam kehidupan. Bahkan kita bisa tahu, bagaimana cara yang terbaik agar bisa membuat kehidupan masyarakat lebih rukun dan damai. Cara hidup bertoleransi dengan siapapun yang ada dalam ruang lingkup masyarakat.

Ketika “Kesenian” dapat berfungsi dengan baik, berkomunikasi dengan tepat, tentu saja akan membangun kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan menarik.

Sebagai anak Nusantara yang kaya dengan Budaya, semoga kita semua bisa ikut melestarikannya…. Salam!


Published with Blogger-droid v2.0.4
[Read more]

Pemberontakan Terhadap Musik Mainstreams

Posted On // Leave a Comment

Seperti diketahui, Indie memang berasal dari kata Independent. Hal ini bermula dari tabiat anak-anak muda Inggris yang suka memotong kata agar mempermudah pelafalan informal seperti juga; distribution menjadi distro, british menjadi brit, dsb. Namun kecendrungan awam dalam memahami Indiemembuat banyak orang memperdebatkan arti atau makna independen tersebut. Status artis/band atauminor label yang tidak dikuasai/dikendalikan major label seringkali dianggap sebagai indie. Sedangkan di lain pihak berpendapat, bahwa independen dalam konteks indie adalah sebagai subkultur dan genre musik. Akan tetapi kita tidak bisa menghakimi siapa yang paling benar dalam memaknai Indie tersebut.


Sejarahnya dimulai sejak awal abad 20 dengan kemunculan minor label seperti Vocalion atau Black Patti yang kala itu berupaya mengikis dominasi major label semacam Victor, Edison, dsb. Walaupun independensi pada pola dan jaman itu tidak menjalin akar dengan pengertian bahwa independen dalam konteks indie adalah sebagai subkultur dan genre musik, mereka bertendensi serupa sebagai antitesis mainstream dengan merilis musik kaum minoritas seperti blues, bluegrass, dsb. Tapi saat itu yang terjadi sekadar rivalitas antara kapital kecil melawan kapital besar dan pergerakannya tidak bersifat integral. Lalu di era 50-an mulai berkembang wacana independenuntuk memerdekakan kreativitas dari intervensi kepentingan industri. Kendati demikian, kondisi yang tercipta tidak menghasilkan karakter signifikan. Bipolarisasi terhadap arus utama belum terwujud. Mereka memang berproduksi secara minor tapi iramanya masih mengacu ke pola major label juga. Walaupun bermotif kebebasan berekspresi, mereka hanya independen secara kapital dari major label namun orientasi musiknya tetap setipe major label.

Seiring dengan perkembangannya, di Indonesia istilah indie mengalami perluasan makna akibat eksploitasi media massa yang menjadikannya rancu. Secara general, definisi indie cenderung dipublikasikan sebagai pola kerja mandiri semata. Independen secaraminor label atau self-released tidak menjamin artis/label itu berkarakter indie. Esensi indie bukan sekadar kemandiriannya saja, namun lebih kepada Roots-Character-Attitude (RCA) yang bertumpu pada resistensi terhadap mainstream. Sebagai contoh, The Smiths dan New Order dirilis oleh Warner Musicnamun reputasinya masih diakui sebagai band indie karena RCA mereka adalah indie. Bahkan secara internasional indie diakui sebagai genre. Itu artinya, ada sebuah konsensus global yang memahami indie dalam spesifikasi musik tertentu.Lalu bagaimana menentukan band itu indie atau bukan? Bagaimana bila sebuah band beridealisme mainstream tapi mereka berproduksi secara swadaya? Seseorang yang berjiwa mainstream pun bisa saja menghasilkan karya berkarakter mainstream tapi dikemas secara Do-It-Yourself dengan dalih kebebasan ekspresi atau budget minim.Dan itu bukanlah Indie.

Guna mendistribusikan rekaman indie, para scenester(aktivis musik) indie membangun jalur distribusi di luar sistem mainstream yang kemudian dikenal sebagaidistro. Disinilah keistimewaan indie terletak pada jaringan kerjanya. Indie tanpa networking akan menjadi benteng tanpa prajurit. Dalam relasinya indiecenderung lebih mengedepankan unsur humanis. Dukungan mutualisme semacam ini sebenarnya adalah warisan dari 3 dekade silam ketika indie labelyang lebih besar memberi dukungan kepada indie label yang lebih kecil untuk berkembang lebih pesat tanpa mengawatirkan rivalitas pasar. Indie bergerak kepada orientasi pendengar yang segmentatif. Kalaupun akhirnya mendapat respon luas, itu dianggap senagai bonus saja. Faktor penentunya adalah sikap artis/band indie tersebut ketika mulai dikenal secara luas. Mereka harus lebih bijak dalam menjaga pakem agar karakternya tidak terseret menjadi pasaran atau kacangan.

Singkatnya, Indie adalah etos cutting edge, avant garde atau budaya kreatif yang menjadi alternatif dari pola-pola musik pada umumnya.


Published with Blogger-droid v2.0.4
[Read more]

Dreadlock Rasta

Posted On // Leave a Comment

Indonesia sedang menggandrungi musik reggae. di mana-mana orang memutar musik yang konon berasal dari Jamaika. Bahkan style para pengusung musik ini pun menjadi mode dadakan dikalangan anak muda. Ya, Rambut Gimbal yang menjadi ciri khas Bob Marleysebagai pembawa genre reggae mendunia pun diadopsi oleh para penggemarnya.

Parahnya, banyak dari mereka yang hanya ikut-ikutan saja. Bahwa sebenarnya tidak benar-benar mengerti akan asal-usul atau mungkin filosofi dibalik Rambut Gimbal.

Agar kita tidak dicap sebagai pemilik rambut gimbal atau pecinta Reggae gadungan, ada kalanya menyimak ulasan berikut nich gan….

Lepas dari perawatan rambut, secara alami rambut akan menyatu bersama membentuk knot dan kusut atau disebut dreadlocks. Dreadlock merupakan fenomena universal. Spiritualist dari semua kepercayaan dengan latar belakangnya memasukan kedalam jalur ajarannya dengan tidak memperdulikan penampilan fisik dari individu penganut kepercayaan tersebut. Para pendatang terkadang tidak menyisir dan memotong rambutnya atau bahkan sebaliknya dengan menutup rambutnya. Disinilah bagaimana dreadlocks lahir.

Orang Nazaret adalah masyarakat yang paling mengerti dalam mengembangkan dreadlocks. Di timur, Yogis, Gyanis dan Tapasvis dari semua sekte adalah pembawa dreadlocks yang terkenal.

Dreadlocks kemudian secara universal merupakan simbol spiritual dengan pengertian bahwa penampilan fisik tidak penting. Dreadlocks tidak hanya sekedar simbol pernyataan yang tidak memperdulikan penampilan fisik individu. Tradisi orang barat dan timur percaya bahwa energi jasmani, mental dan spiritual keluar melalui bagian atas tubuh kita, melalui kepala dan rambut; yang dapat menjaga seseorang menjadi lebih kuat dan sehat.

Contoh dari tradisi masyarakat barat adalah cerita kitab suci “Samson” yang tak terkalahkan, namun ketika Delilah memotong “7 locks” dari rambutnya, pada akhirnya Samson dapat terkalahkan. Pada cerita India klasik, para pelajar rohani spiritual yang dengan kepercayaannya pada kitab suci injil, mereka menjadikan dreadlocks sebagai pemecah kesombongan dari penampilan fisik antar mereka dan menolong mereka dalam perkembangan kekuatan jasmani, mental dan spiritual.

Ketika dunia masuk kedalam era industri, dreadlocks sudah dapat dilihat dimana-mana selain India. Pada abad ke 20, pergerakan sosial-agama bermulai di Harlem New York oleh Marcus Garvey, menemukan antusiasisme dreadlocks diantara populasi masyarakat negro di Jamaica. Group ini mengambil pengaruh dari 3 sumber utama, yaitu: Perjanjian Lama dan Baru dari Alkitab, Budaya Suku Afrika dan Budaya Hindu yang dapat menembus serangan budaya di Hindia barat.

Pengikut dreadlocks menyebut diri mereka “Dreads”, menandakan mereka mempunyai dread, takut dan respek kepada Tuhan. Dengan referensi yang berasal dari agama Hindu dan Kristen. Rambut “dread” yang tumbuh matted locks (kusut dan terbentuk knot) kemudian oleh masyarakat dunia disebut “Dreadlocks” – model rambut para dread.

Perkembangan selanjutnya, para dread lebih fokus kepada Kaisar Ethiopia Ras Tafari, Haile Selassie dan melalui dialah muncul penganut rastafari, “Rastafarians”. Di awal 1900-an, dreadlocks diambil alih oleh penganut rastafari sebagai tambahan terhadap fungsi asli agama dan arti pentingnya spiritual sebagai simbol potensi sosial yang baik. Saat ini dreadlocks merupakan hal yang sungguh-sungguh spiritual, natural dan supernatural power dan sebagai pernyataan anti kekerasan, keselarasan, kebersamaan dan dapat saling bersosialisasi serta solidaritas antar sesama tanpa menekan minoritas.

Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.

Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.

Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Selain itu ada kepercayaan bahwa rambut gimbal membantu meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental-spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut dilatari kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.

Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke-19, rambut gimbal mulai sulit diketemukan di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread iniah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).

Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan diantara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Dreadlocks juga mereka praktekkan sebagai pembeda dari para “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon—istilah untuk penguasa penindas. Pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston, seperti di kota Trench Town dan Greenwich, tempat dimana musik reggae lahir pada tahun 1968.

Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan, termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang permanen.

Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.


Published with Blogger-droid v2.0.4
[Read more]